Peristiwa Isra Mikraj merupakan salah satu peristiwa penting bagi umat Islam dan berperan sebagai salah satu mukjizat terbesar Rosulullah SAW. Begitu agungnya peristiwa ini sehingga Allah SWT mengabadikannya dalam sebuah ayat Al Qura’an. Tepatnya pada QS. Al Isra’ ayat 1, yang berbunyi :
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah diberkahi sekelilingnya oleh Allah agar Kami perhatikan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS Al Isra:1).
Ayat di atas bercerita mengenai perjalanan Isra Mikraj Rosulullah SAW yang terjadi pada tanggal 27 Rajab tahun 11 setelah kenabian. Tahun tersebut merupakan tahun duka cita bagi beliau sehingga disebut dengan Amul Huzni (tahun kesedihan). Pada tahun tersebut telah wafat dua orang terkasih Rosulullah SAW, yaitu pamanda beliau, Abu Thalib dan istri tercinta beliau, Sayyidah Khadijah Al Kubro. Kedua orang inilah yang senantiasa mendukung dakwah beliau. Abu Thalib yang senantiasa melindungi beliau dari rongrongan kaum kafir Quraisy dan Sayyidah Khadijah yang tidak pernah ragu untuk menghabiskan hartanya guna perjuangan Islam. Makadari itu Isra Mikraj sejatinya merupakan penghiburan bagi Rosulullah SAW. Dengan adanya peristiwa Isra Mikraj ini, dukacita Rosulullah SAW terobati dengan perjumpaan beliau dengan Tuhannya.
Mengenai pengertiannya, Isra Mikraj adalah rangkaian perjalanan yang dilakukan oleh Rosulullah SAW dari Baitul Haram di Makkah menuju Baitul Maqdis di Palestina dan naiknya beliau dari Baitul Maqdis ke Sidratul Muntaha. Dalam perjalanan ini beliau didampingi oleh Malaikat Jibril dengan mengendarai kendaraan yang disebut buroq. Buroq sendiri merupakan salah satu jenis hewan Surga yang memiliki kecepatan secepat cahaya. Makadari itu perjalanan yang tidak memungkinkan untuk ditempuh oleh orang biasa dapat terselesaikan dalam waktu sehari semalam. Konon katanya ia terpilih untuk mengiringi perjalanan Rosul karena kerinduannya yang tak terkira pada Baginda Rosul.
Peristiwa Isra Mikraj membuktikan bahwa tiada yang tak mungkin bagi Allah SWT. Jika Allah telah berkehendak, maka apapun mungkin baginya. Kun Fa Yakun (jadilah, maka jadilah). AdanyaPeristiwa ini juga merupakan bentuk ujian bagi umat Islam pada masa itu. Bagi seseorang yang belum kuat imannya, maka ia akan murtad. Sedang bagi orang yang kuat imannya, maka imannya akan semakin bertambah.
Pada peristiwa ini Abu Bakar merupakan orang pertama yang membenarkan. Sahabat terkasih Rosulullah itu dengan tegas mengatakan, “Aku percaya jika Muhammad yang mengatakannya.” Disaat orang-orang kafir justru mengolok beliau dan sebagian orang muslim mulai meragukan beliau, Abu Bakar tetap mendeklarasikan dirinya sebagai orang yang paling mempercayai Rosulullah. Oleh karena itu Abu Bakar akhirnya mendapat gelar ash-shiddiq (yang membenarkan). Terbukti, saat kaum kafir Quraisy memutuskan untuk menguji kebenaran pernyataan Rosulullah mengenai peristiwa Isra Mikraj dengan cara menanyakan berapa jumlah pintu Masjidil Aqso dan sebagainya, Rosulullah dapat menjawabnya dengan tepat.
Pada peristiwa Isra Mikraj ini merupakan awal mula diturunkannya perintah Isra Mikraj. Perintah tersebut diberikan oleh Allah saat Rosulullah tengah melakukan Mikraj ke Sidratul Muntaha. Mengenai peristiwa Mikraj (naiknya Rosulullah ke langit ketujuh ini), di tiap-tiap tingkatan langit Rosulullah bertemu dengan para Nabiyullah dan saling bertegur sapa dan mengucapkan salam.
Di langit pertama, Rosulullah bertemu Nabi Adam, langit kedua bertemu Nabi Yahya bin Zakaria dan Nabi Isa bin Maryam, langit ketiga bertemu Nabi Yusuf, langit keemmpat bertemu Nabi Idris, langit kelima bertemu Nabi Harun bin Imran, langit keenam bertemu Nabi Musa bin Imran, dan langit ketujuh bertemu Nabi Ibrahim. Setiap nabi yang dijumpai, Rosulullah SAW mengucapkan salam, lalu mereka menjawab dan mengakui kenabian Rosulullah Muhammad SAW.
Dikisahkan, pada peristiwa ini Rosulullah SAW sempat terhenti saat berjumpa dengan Nabi Musa. Ketika hendak melanjutkan perjalanan ke langit ketujuh, Nabi Musa tiba-tiba menangis.
“Apa yang membuatmu menangis?” tanya Rosulullah kepada Nabi Musa.
“Aku menangis, karena ada orang yang lebih muda diutus setelahku, tapi umatnya lebih banyak yang masuk surga daripada umatku,” jawab Musa menyesal.
Nabi Musa menangis karena merasa sedih, jumlah umatnya lebih sedikit dari umat Rosululah SAW dan kemuliaan umatnya juga dikalahkan oleh umat Rosulullah SAW yang lebih muda darinya. Padahal, masa umat Nabi Musa jauh lebih lama dibanding masa umat Rosulullah SAW.
Sikap Nabi Musa demikian bukanlah karena rasa iri (hasud) dengan Rosulullah SAW. Melainkan karena merasa menyesal. Mengapa dulu umatnya banyak melanggar perintah Allah, sehingga mempengaruhi derajat kedudukannya di sisi Tuhannya. Perlu diketahui bahwasannya ketaatan suatu umat merupakan prestasi seorang Nabi. Semakin tinggi tingkat ketaatannya, semakin tinggi pula derajat Nabi yang membimbingnya di sisi Allah. Sebaliknya, semakin umatnya sering melanggar perintah Allah, derajat Nabinya pun tidak setinggi Nabi yang berprestasi menuntun umat ke jalan ketaatan lebih gemilang. Salah satu keistimewaan yang Allah berikan kepada nabi-nabinya adalah besarnya rasa kasih sayang yang dimiliki setiap nabi-Nya. Jadi, di samping Musa merasa kurang berhasil dengan pencapaiannya, juga karena rasa sayang pada umatnya. Mengapa tidak bisa membimbing mereka lebih maksimal.
Dikisahkan pula bahwa awal mula perintah sholat maktubah ialah 50 rokaat, namun saat Rosulullah SAW turun hendak menyampaikan perintah tersebut kepada umatnya, beliau berjumpa dengan Nabi Musa. Nabi Musa meminta kepada Rosullah untuk memintakan keringan kepada Allah karena khawatir terhadap umat. Oleh karena kitu, Rosulullah SAW kembali menghadap Allah SWT untuk meminta keringanan dan Allah mengabulkannya. Hal ini berulang secara terus-menerus sampai akhirnya perintah sholat maktubah menjadi 5 rakaat seperti saat ini.
Sedang, ada pula kisah menarik mengenai bacaan Attahiyat dalam sholat yang merupakan dialog antara Rosulullah SAW dengan Allah SWT saat Isra Mikraj.
a. Rosullah SAW memberi salam penghormatan kepada Allah SWT :
Attahiyyatul mubarokaatush shalawatut thayyibaatulillah
“Semua ucapan penghormatan, pengagungan dan pujian hanyalah milik Allah”.–
b. Kemudian Allah membalas sapaan Rosulullah SAW :
Assalamu’alaika ayyuhan Nabiyyu warahmatullahi wabarakaatuh
“Segala pemeliharaan dan pertolongan Allah untukmu wahai Nabi, begitu pula rahmat Allah dan segala karunia-Nya.”
c. Mendapatkan jawaban seperti ini, Rasulullah SAW tidak merasa jumawa atau berbesar diri, justru beliau tidak lupa dengan umatnya, sehingga beliau menjawab :
Assalaamu ‘alaina wa ‘alaa ‘ibadillahish shalihiin
“ Semoga perlindungan dan pemeliharaan diberikan kepada kami dan semua hamba Allah yang shalih”
d. Melihat peristiwa ini, para Malaikat yang menyaksikan dari luar Sidratul Muntaha tergetar dan terkagum kagum betapa Rahman dan Rahimnya Allah SWT, betapa mulianya Rosulullah SAW. Kemudian para Malaikat-pun mengucap dgn penuh keyakinan :
Asyhadu Allaa ilaaha illallah, wa asy hadu anna Muhammadan abduhu wa Rasuluhu
“Kami bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan kami bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba Allah dan Rasul Allah”
Rangkaian dialog ini menunjukkan betapa agung dan istimewanya lafadz Attahiyat yang merupakan dialog langsung antara Rosulullah SAW dengan Allah SWT.
Begitu banyak keistimewaan peristiwa Isra Mikraj. Pada peristiwa ini Rosulullah SAW banyak sekali mendapatkan tamsil-tamsil kehidupan. Tamsil-Tamsil tersebut diantaranya adalah :
1. Tamsil dalam Isra’
- Rosulullah SAW melihat orang yang memotong padi (panen) terus menerus, beliau bertanya kepada Jibril, “Siapakah mereka itu?” Jibril menjawab, “Mereka itu adalah umatmu yang gemar beramal jariah yang kemudian mereka terus menerus memetik pahalanya dari Allah SWT ”.
- Rosulullah SAW melihat orang yang memukul kepalanya terus menerus, lantas beliau bertanya pada Jibril, “Siapakah mereka itu ya Jibril?” dijawabnya “Mereka itu ibarat umatmu yang enggan bershalat, yang kelak sangat menyesal dengan memukul kepalanya sendiri terus menerus sekalipun terasa sakit olehnya ”.
- Rosulullah SAW melihat kuburan yang sangat harum baunya, lalu beliau bertanya ”Apakah itu ya Jibril? ” jawabnya, “Itu kuburan Masithoh dan anaknya. Dia mati karena disiksa dengan digodok oleh Fir ‘aun karena ia mempertahankan imannya kepada Allah SWT.
- Rosulullah SAW melihat orang yang dihadapannya ada dua buah hidangan, sebelah kanannya makanan lezat dan sebelah kirinya makanan busuk, orang itu dengan lahapnya memilih makanan busuk. Rasulullah bertanya, ”Ya, Jibril siapakah mereka itu?”. Jibril menjawab, ”Ya Rasulullah. itu bagaikan umatmu yang suka membiarkan nafsunva memilih pekerjaan yang buruk dan dosa daripada beramal baik dan berpahala.”
2. Tamsil dalam Mi’raj Nabi Muhammad SAW
Rosulullah SAW melihat orang yang gagah perkasa, orang itu menengok dan melihat ke kiri, dia merasa sedih dan menangis tersedu sedu, tetapi bila menengok dan melihat ke kanan, dia berseri-seri dan tersenyum. Rosulullah SAW bertanya, “Siapakah orang itu, ya Jibril? ”, Jibril menjawab, “Ya Rasulullah dia itu bapakmu yang pertama yaitu Nabi Adam AS. Bila beliau melihat ke kiri dan bersedih karena melihat anak cucunya di dunia berbuat jahat dan dosa. Sebaliknya, bila beliau menengok ke kanan dan merasa gembira. karena melihat anak cucunya di dunia yang berbuat baik dan beramal shaleh ”.
Isra dan Miraj adalah sebuah perjalanan spiritual yang luar biasa bagi Rosulullah SAW. Perjalanan ini ibarat perjalanan keilmuan dan penempaan mental bagi nabi dalam bersikap ketika nanti berhadapan dengan bermacam-macam jenis manusia saat berdakwah. Untuk itu secara khusus Allah SWT memberikan waktu tersendiri bagi Rosulullah SAW untuk berkenalan dengan macam-macam manusia yang akan beliau temui ketika berdakwah.
Serangkaian kisah Isra Mikraj di atas hendaknya bisa menjadi renungan bagi kaum muslimin. Perlu kita sadari bahwasannya setiap perkara yang ditetapkan oleh Allah pasti memiliki sebuah rahasia yang terkandung didalamnya. Adapun hikmah yang bisa diperoleh dari peristiwa Isra Mikraj adalah :
- Orang yang sukses harus menempuh perjuangan yang keras. Rasulullah SAW diisrakan dan dimi’rajkan Allah SWT setelah mendapatkan kesedihan yang luar biasa. Beliau ditinggal wafat oleh orang-orang yang dicintainya dan mengalami rasa sedih yang sangat mendalam sehingga Allah SWT menghiburnya dengan peristiwa Isra Mikraj.
- Akan selalu ada kemudahan dan kegembiraan yang diberikan Allah SWT setelah kesulitan dan ujian.
- Saat Nabi Muhammad naik ke langit ke-7, Beliau bertemu dengan Nabi Adam AS di langit pertama. Nabi Adam AS merupakan bapak dari manusia. Hal ini menandakan setiap pekerjaan yang dilakukan harus senantiasa izin kepada orang tua.
- Hati sebagai pusat metabolisme keimanan dan ketaqwaan. Hati mengarahkan kehidupan spiritual manusia, dan kwalitas spiritual itu secara langsung turut menentukan dan mempengaruhi laku social seseorang. Dengan demikian, apa yang terjadi pada diri Rasulullah SAW adalah simbol bagi umatnya, bahwa hati adalah perkara yang paling penting untuk dirawat mengalahkan berbagai anggota lainnya. Menyehatkan hati dan meriasnya jauh lebih penting dari pada merias wajah, dari pada bersolek tubuh, bahkan lebih penting dari pada mengasah otak. Agar hati selalu terawat maka hendaknya umat Islam senantiasa menghindari empat perkara yakni riya’, ujub, takabbur, serta hasad.
Riya’ adalah pamer. Riya menurut imam al-Ghazali adalah mencari kedudukan di hati manusia dengan cara melakukan ibadah dan amal. Dengan kata lain riya’ senantiasa mengajak manusia untuk mencari modus dalam setiap kelakuan dan amalnya. Sementara Ujub adalah sifat merasa diri serba berkecukupan dan berbangga hati atas nikmat yang ada serta lupa jika kelak akan sirna. Takabbur adalah merasa dirinya lebih sempurna dari yang lainnya. Sedang hasad atau dengki adalah rasa iri terhadap kelebihan yang dimiliki sesama.

