Oleh : Alvie Najihul Ilmy
Al-Qur’an bukan satu-satunya kitab yang diturunkan oleh Allah. Ada beberapa kitab yang sengaja diturunkan terlebih dahulu untuk kemudian diturunkan Al-Qur’an sebagai penyempurna. Al-Qur’an yang turun sebagai penyempurna dan ditakdirkan untuk menjadi satu-satunya kitab yang sempurna. Huruf Alif dalam Al-Qur’an mengandung arti kesempurnaan, hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an adalah bacaan yang sempurna tidak hanya kandungannya tetapi juga pentunjuk di dalamnya. Selain itu, salah satu kesempurnaan Al-Qur’an juga adalah mudah diingat yang dibuktikan dengan banyaknya penghafal Al-Qur’an di seluruh dunia.
Menghafal Al-Qur’an bukan suatu kewajiban bagi umat Islam, meskipun begitu dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW, karena yang lebih utama atau lebih dianjurkan adalah tetap berusaha untuk membaca dan mempelajarinya, sesuai Firman Allah :
افلا يتدبرون القران أم على قلوب أقفالها
Referensi: https://almanhaj.or.id/9235-kewajiban-seorang-muslim-terhadap-alquran.html
Artinya : “Maka, apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur`an, ataukah hati mereka terkunci?” (Muhammad/ 47:24)
Meskipun tidak diwajibkan, tetapi penghafal Al-Qur’an begitu dianjurkan dan Allah SWT telah menjanjikan sederet kenikmatan dan pahala yang berlimpah kepada para penghafal al-Qur’an diantaranya :
1) Kelak di akhirat para penghafal al-Qur’an akan dimasukkan oleh Allah SWT ke dalam surga bersama dengan rasul-rasul-Nya yang mulia.
2) Orang tua penghafal al-Qur’an kelak akan mendapatkan kedudukan khusus dari Allah SWT, yang dimaksud dengan kedudukan khusus disini adalah bahwa kelak di hari kiamat orang tua penghafal al-Qur’an akan mendapatkan mahkota yang bercahaya dari Allah karena berkah dari al-Qur’an, karena ketika hidup di dunia anaknya bisa
menghafal al-Qur’an.
3) Penghafal al-Quran memiliki hak untuk memberi syafaat (pertolongan) kepada sepuluh anggota keluarganya. Dalam hadits dari Ali Bin Abi Thalib r.a berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa membaca al-Quran dan menghafalnya, maka Allah akan memasukkannya dalam surga dan memberikan hak syafaat untuk sepuluh anggota keluarganya dimana mereka semuanya telah ditetapkan untuk masuk neraka”
Kenikmatan dan pahala yang akan diperoleh oleh penghafal al-Qur’an banyak sekali, namun perlu diingat bahwa dibutuhkan suatu ikhtiar untuk menghafal dan menjaga AlQur’an jika menginginkan nikmat yang telah dijanjikan oleh Allah SWT. dan Jangan sampai ketika kita sudah memutuskan untuk menghafal Al-Qur’an tetapi setelahnya dibiarkan begitu saja tanpa ikhtiar untuk menjaganya. Hal ini justru akan membalik nikmat Allah menjadi laknat, karena penghafal al-Qur’an yang melupakan hafalannya, sesuai sabda Nabi Muhammad SAW. :
قال رسول الله صلى الله عليه و سلم
عرضت علي أجور أمتي حتى القذاة يخرجها الرجل من المسجد وعرضت علي ذنوب أمتي فلم أر ذنبا أعظم من سورة من القران أو اية أوتيهارجل ثم نسيها
Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/110394/berdosakah-melupakan-hafalan-al-qur-an
Artinya : “ Rasulullah SAW. bersabda, ditunjukkan kepada saya seluruh pahala umatku bahkan sampai sekecil kotoran (debu) yang dikeluarkan oleh seseorang dari masjid, dan ditunjukkan kepada saya dosa-dosa umatku, saya tidak melihat sebuah dosa yang lebih besar dibandingkan surat atau ayat yang diberikan kepada seseorang kemudian ia melupakannya” (HR Imam
Turmudzi)
Ikhtiar untuk menjaga Al-Qur’an menjadi wajib sejak awal mula memutuskan untuk menghafal Al-Qur’an. Tentu yang diwajibkan adalah tetap murajaah dan tawakkal untuk kelancaran hafalannya. Selain menjaga bacaan hafalannya tentu kita juga dianjurkan untuk senantiasa menjaga perbuatan dan perkataan sebagai seorang penghafal Al-Qur’an, meskipun manusia ditakdirkan untuk selalu memiliki dosa tetapi hendaknya kita dianjurkan untuk menjaga hal-hal yang sejatinya bisa ditahan atau dikontrol oleh kendali kita termasuk dengan menghafalkan Al-Qur’an dengan ikhlas, senantiasa berusaha untuk mempelajarinya, berusaha menjaga hafalan karena Allah dan tidak untuk dipamerkan kepada orang lain ataupun menghafal Al-Qur’an karena urusan duniawi, senantiasa menjaga kemaluan utamanya bagi
wanita penghafal Al-Qur’an, menahan diri untuk tidak memiliki sifat munafik, dan tidak menjadi umat islam penghafal Al-Qur’an dari golongan khawarij yakni golongan sesat yang berakidah takfir dan mengkafirkan kaum muslimin di luar golongannya.
Pada zaman akhir ini, banyak sekali penghafal Al-Qur’an yang tidak mementingkan sanad atau silsilah dari Nabi Muhammad SAW. Hal tersebut sangat disayangkan karena sebagai seorang penghafal Al-Qur’an dengan sanad yang runtut dari Nabi Muhammad SAW selain untuk menghafal Al-Qur’an sesuai tuntunan dari Nabi Muhammad SAW yang
disambung melalui para ulama’ dan sahabat, juga karena kita ingin mengajarkan Al-Qur’an kepada orang lain dan dengan sanad kita bisa memastikan bahwa bacaan yang kita baca adalah benar, kemudian juga sebagai upaya agar kelak di akhirat kita dapat digolongkan dengan guruguru kita hingga Nabi Muhammad SAW, karena tidak ada kemuliaan yang lebih besar daripada nama kita tersambung kepada nama Rasulullah SAW. Ketika kita memiliki sanad, maka nama kita digandengkan dengan Rasulullah SAW. dan itu adalah suatu kemuliaan yang tak terhingga.
Adanya sanad sebagai upaya agar bacaan yang kita baca adalah benar karena penggunaan tajwid dalam membaca Al-Qur’an adalah wajib. Dimana jarak kita dengan Nabi Muhammad SAW sudah banyak generasi dan menurut Syech Muhammad, “ Bila tiap generasi mengabaikan 1% saja hukum tajwid, maka sudah 30% berkurang akibat melalaikan hukum tajwid. Jangan pernah menyepelekan hukum tajwid karena Al-Qur’an harus diajarkan dengan
detail dan teliti”.
Maka dari itu meskipun menghafal Al-Qur’an tidak diwajibkan, tetapi akan menjadi wajib ketika pernah memutuskan untuk menghafalkan-Nya. Baik wajib menjaga bacaan hafalannya, perbuatan serta perkataannya, sanad, dan juga tajwidnya. Menjaga apapun tentu tidak mudah, termasuk Al-Qur’an, tetapi harus tetap yakin bahwa Allah telah membersamakan antara ketidak mudahan dengan kemudahan sesuai firman-Nya dalam surat Al-Insyirah.

