Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Nurul Huda Joyosuko Metro
Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Nurul Huda Joyosuko Metro atau disingkat dengan PPTQ NUHA adalah salah satu pondok pesantren yang dikembangkan dari PPSS Nurul Huda Mergosono Malang. KH. Drs. A. Masduqi Mahfud yang merupakan polopor bagi berdirinya PPSS Nurul Huda Mergosono Malang, memiliki seorang putra yang bernama KH. Isyroqun Najah (Gus Is). Gus Is menikah dengan Hj. Ismatuddiniyah (Ning Isma) yang merupakan salah satu pembina hafidz Al-Qur’an di pondok tersebut.
Pada awal tahun 2000-an, Gus Is dan istri diminta oleh pimpinan kampus UIN Malang untuk mengelola Ma’had Sunan Ampel Al-Ali yang baru didirikan waktu itu. Lalu tanpa diberikan informasi, tiba-tiba ada mahasiswa yang meminta Hj. Ismatuddiniyah agar berkenan untuk menyimak Al-Qur’an yang dihafalnya. Lambat laun, karena semakin banyaknya mahasiswa yang memiliki minat menghafalkan Al-Qur’an dan sudah memiliki hafalan, maka didirikanlah sebuah organisasi yang bernama JQH (Jam’iyyatul Qurro’ Wal Huffadz) dengan fasilitas gedung untuk mereka tempati. Seiring berjalannya waktu, nama JQH diganti menjadi HTQ (Hai’ah Tahfidzul Qur’an).
Pada tahun yang sama, Gus Is mendapatkan tawaran dari seorang temannya untuk membeli sebidang tanah yang berada di Jln. Joyosuko Metro Gang III. Atas musyawarah yang dilakukan bersama orang tuanya, lalu pada bulan Juni tahun 2017 dilakukan peletakan batu pertama oleh Mbah Yasin dan pada bulan Desember 2017 dibangunlah pondok dua lantai dengan konsentrasi Al-Qur’an khusus putri di tanah tersebut. Pembangunan pondok pesantren ini menghabiskan waktu selama enam bulan dengan konsep arsitektur yang moderen. Memasuki bulan Juli tahun 2018, PPTQ Nurul Huda mulai dibuka. Tidak hanya mahasiswa UIN Malang, namun juga siswa SMA dan mahasiswa di kampus lain pun mendaftar disana. Karena merupakan tempat baru, pondok tersebut banyak mendapatkan tantangan karena harus menyesuaikan dengan lingkungan masyarakat sekitar. Namun, lambat laun masyarakat mulai mengenal dan menerima baik hingga terkadang santri-santri diundang ke acara-acara pengajian yang mereka adakan.
Gus Is dan Ning Isma mengkhususkan pondok tersebut untuk putri saja karena merasa bersimpati dan ingin membantu mengingat banyaknya mahasiswa putri yang menghafal Al-Qur’an di Ma’had Sunan Ampel Al-Ali UIN Malang. Gus Is dan Ning Isma berharap dengan adanya pondok ini bisa memfasilitasi para santri penghafal Al-Qur’an tidak hanya bisa menghafal, namun juga bisa mengerti dan memahami apa yang dihafalkannya.
Fasilitas yang disediakan oleh pondok ini lumayan lengkap. Tidak hanya mengahafalkan Al-Qur’an, ngaji kitab juga diajarkan. Memasuki tahun ajaran ke-dua, pondok tersebut melebarkan sayap dengan menambah hingga empat lantai. Setiap tahunnya, selalu banyak mahasiswa yang mendaftar disana.

